Home Download Comment Referensi Contact Video
Model Pembelajaran IPS

A. MODEL PEMBELAJARAN IPS

1.  Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi masalah yang ingin di ketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mengumpulkan data/informasi dengan berbagai teknik, mengolah/menganalisis data/informasi dan menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan dan mungkin juga temuan lain yang diluar rumusan masalah untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta. Berikut langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran saintifik :

                      Tabel 1.1.2  langkah-langkah pembelajaran saintifik.

Langkah Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Kompetensi yang Dikembangkan

Langkah-1

Mengamati

Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat).

 

Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi.

Langkah-2

Menanya

Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).

 

Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

Langkah-3

Mengumpulkan Informasi/ menalar

· melakukan eksperimen.

· membaca sumber lain selain buku teks.

· mengamati obyek/kejadian/aktivitas.

· wawancara dengan nara sumber.

Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapak kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebablasan belajar dan belajar sepanjang hayat.

Langkah-4

Mengasosiasikan/mengolah  informasi/eksperimen/mencoba

 

· mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

· Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.

Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

Langkah-5

Mengomunikasikan/Membentuk jejaring (networking)

 

· Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.

 

Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas dan mengembangkan berbahasa yang baik dan benar.

          Sumber : Kemendikbud 2013

Kegiatan pembelajaran dalam metode pendekatan saintifik meliputi tiga kegiatan, yaitu :

a. Kegiatan pendahuluan, meliputi :

  1. Peserta didik dan Guru mengucapkan salam.
  2. Guru mengingatkan kembali tentang konsep-konsep yang telah di pelajari oleh peserta didik yang berkaitan dengan materi yang akan di pelajari.
  3. Peserta didik menerima informasi tentang topik dan tujuam pembelajaran yang di sampaikan Guru.

b. Kegiatan inti, meliputi :

  1. Mengamati
  2. Menanya
  3. Mengumpulkan informasi/menalar
  4. Mengasosiasikan/mengolah informasi/eksperimen/mencoba
  5. Mengkomunikasikan/membentuk jejaring (networking).

c. Kegiatan penutup. Meliputi :

  1. Peserta didik diminta untuk meningkatkan pemahamannya mengenai materi yang telah di pelajari dari buku- buku pelajaran atau sumber informasi lain yang relevan.
  2. Guru dapat memberikan beberapa situs di internet yang berkaitan dengan konsep, prinsip, atau teori yang telah di pelajari oleh peserta didik dan kemudian meminta peserta didik untuk mengaksesnya.
  3. Peserta didik menerima pesan-pesan moral dari guru.

2.  Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Berbasi Masalah (Problem-Based Learning) atau sering disebut PBM adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dalam kehidupan sehahri-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berfikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru. Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah (PBM) sebagai berikut :

Tabel 1.1.3 Langkah-langkah Pembelajaran Berbasih Masalah

Tahap

Deskripsi

Tahap 1

Orientasi terhadap masalah

Guru menyajikan masalah nyata kepada peserta didik.

Tahap 2

Organisasi belajar

Guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami masalah nyata yang telah di sajikan, yaitu mengidentifikasi apa yang mereka telah ketahui, apa yang perlu mereka ketahui, dan apa yang perlu di lakukan untuk menyelesaikan masalah. Peserta didik berbagi peran/tugas untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tahap 3

Penyelidikan individual atau kelompok

Guru membimbing peserta didik melakukan pengumpulan data/informasi (pengetahuan, konsep, teori) melalui berbagai macam cara untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah.

Tahap 4

Pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah

Guru membimbing peserta didik untuk menentukan penyeleasaian masalah yang paling tepat dari berbagai alternatif pemecahan masalah yang peserta didik temukan. Peserta didik menyusun laporan hasil penyelesaian masalah, misalnya dalam bentuk gagasan, model, bagan, atau power point slides.

Tahap 5

Analisis dan evaluasi proses penyelesaian

Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses penyelasaian masalah yang dilakukan.

Sumber : Ibrahim, dkk. (2000:10)

Dalam penilain terdapat tiga aspek, yaitu aspek pengetahuan (knowledge), sikap(attitude), kecakapan (skill). Penilaian aspek pengetahuan mencakup dari nilai ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), PR, kuis, dokumen, dan laporan-laporan. Sedangkan penilaian sikap dapat dilihat dari penguasaan softskill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerja sama dalam tim dan kehadiran dalam pembelajaran. Penilaian kecakapan diukur dari penguasaan lat batu pembelajaran, baik software maupun kemampuan perancangan dan pengujian.

3.  Pembelajaran Berbasis Projek

Pembelajaran Berbasis Projek (Projectd-Based Learning) adalah kegiatan pembelajaran yang menggunakan projek/kegaiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.  Inti pembelajaran berbasi projek terletak pada aktivitas-aktivitas peserta didik untuk menghasilkan produk dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Dan memperkenankan peserta didik untuk bekerja sendiri atau kelompok. Produk yang di hasilkan dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Di bawah ini adalah langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Projek (PBP) :


Gambar Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Projek

Di adaptasi dari Keser & Karagoca (2010)

                 Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam penilaian pembelajaran berbasis projek sebagai berikut :

a) Kemampuan pengolahan

Kemampuan peserta didik dalam memilih tema/topik yang relevan dengan bahasa dan materi pelajaran, mengelola waktu (tugas, materi, proyek) sesuai perencanaan proyek, mencari serta menemukan informasi/produk sesuai dengan jenis tugas proyek dan penulisan laporan.

b) Relevansi

Kesesuaian hasil tugas proyek dengan materi pelajaran yang di berikan guru dengan mempertimbangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik dalam pembelajaran.

c) Keaslian

Produk atau hasil karya tugas projek yang di kerjakan peserta didik harus merupakan hasil karyanya sendiri baik secara individu maupun kelompok.

4. Pembelajaran Discovery Learning-Inquiri

                 Metode discovery learning dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yeng terjadi bila pelajar tidak di sajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi di harapkan siswa mampu mengorganisasikan sendiri. Sebagai strategi pemebelajaran discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inquiri maupun problem solving. Discovery learning lebih menekankan pada konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui, sedangkan pada inquiri dan problrm sloving masalah yang di hadapkan pada siswa di rekayasa oleh guru.

                 Pembelajaran discovery learning menghendaki guru memberi kesempatan terhadap peserta didik untuk menjadi problem solving, scientis ataupun historian. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, sehingga peserta didik dituntut untuk melakukan kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkatagorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.

                 Langkah-langkah operasional pemebelajaran discovery learning sebagai berikut :

a)      Persiapan

  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
  3. Memilih materi pelajaran.
  4. Menentukan topik-topik yang harus di pelajari peserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
  5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagiannya untuk di pelajari peserta didik.
  6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahapan aktif ikonik sampai ke simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

b)      Pelaksanaan

1)      Stimulisasi/pemberian rangsangan

Pertama-tama peserta didik di hadapkan pada sesuatu yang menimbulkan masalah. Kemudian guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

2)      Pernyataan/identifikasi masalah

Guru memberi kesempatan keapada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk jawaban sementara atas pertanyaan masalah.

3)      Pengumpulan Data

Peserta didik mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya jawaban sementara atas pertanyaan/masalah. Peserta didik di berikan kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya

4)      Pengolahan  Data

 Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dsb. Di olah, di klasifikasikan, dan di tabulasi bahkan bila perlu dihitung dengan model tertentu serta di maknai.

5)      Pembuktian

Pada tahap ini peserta didik melkaukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya jawaban sementara atas pertanyaan masalah penarikan kesimpulan/generalisasi.

6)      Tahap generalisasi/menarik kesimpulan

Tahap generalisasi adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat di jadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

c)      Penilaian

          Penilainnya dapat menggunakan metode tes dan non tes. Penilaian yang digunakan berupa penilaian kognitif, sikap atau penilaian hasil kerja siswa. Jika penilaiannya dalam bentuk kognitif maka dapat di nilai dengan menggunakan tes tertulis. Jika penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap ataupun penilaian hasil kerja maka pelaksanaan penilaiannya dengan pengamatan.

develop by Tim Penyusun Geography Online
email: tim.geography.online@gmail.com