Home Download Comment Referensi Contact Video
Penilaian IPS

Permendikbud No. 65 tahun 2013 menjelaskan bahwa pendekatan penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian atutentik. Penilaian autentik adalah penilaian yang menilai kemempuan peserta didik yang sebenarnya. Penilaian dilakukaan untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan pencapaian kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang di harapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada pendidik agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran. Secara umum kemampuan peserta didik yang sebenarnya meliputi kemampuan afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotorik (keterampilan). Cara menilainya akan di jelaskan sebagai berikut :

1. Penilaian Kompetensi Sikap

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon suatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pendangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap juga dapat dibentuk, sehingga terjadi perubahan perilaku atau tindakan yang di harapkan. Pada kurikulum 2013 ranah sikap di bagi menjadi dua, yaitu sikap spiritual dan sikap sosial. Penjelasannya adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1.4 Lingkung Penilaian Ranah Sikap

Beberapa cara yang dapat di gunakan untuk menilai sikpa peserta didik, antara lain melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, dan penilaian jurnal. Instrumen yang di gunakan antara lain daftar cek atau skala penilaian (ratingscale) yang di sertai rubik yang hasil akhirnya berdasarkan modus.

a. Observasi

Sikap dan prilaku keseharian peserta didik direkam melalui pengamatan dengan mengguanakan format yang berisi sejumlah indikator prilaku yang diamati, baik berkaitan dengan mata pelajaran taupun secara umum. Pengamatan terhadap sikap dan prilaku yang terkait dengan mata pelajaran yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan selama proses pembelajaran berlangsung, seperti : ketekunan belajar, percaya diri, rasa ingin tahu, kerajinan, kerjasama, kejujuran, disiplin, peduli lingkungan, dan selama peserta didik berada di sekolah atau bahkan di luar sekolah (selama prilakunya dapat diamati guru).

Tabel 1.1.5 contoh format pengamatan sikap


Catatan :

Kolom aspek perilaku di isi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut :
4 = sangat baik
3 = baik
2 = cukup
1 = kuarang

b. Penilaian Diri (self assessment)

Penilaian diri digunakan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap kemajuan proses belajar peserta didik. Penilaian diri berperan penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke peserta didik yang didasarkan pada konsep belajar mandiri (autonomous learning). Untuk menghilangkan kecenderungan peserta didik menilai diri terlau tinggi dan subjektif, penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Untuk itu penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penilaian diri.
2) Menentukan kommpetensi yang akan dinilai.
3) Menentuka kriteria penilaian yang akan di gunakan.
4) Merumuskan format penilaian, berupa tanda cek atau skala penilaian.

Contoh : Format Penilaian Diri

c. Penilaian Teman Sebaya (peer assessment)

Penilaian teman sebaya atau antara peserta didik merupakan teknik cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar pengamatan antar peserta didik. Penilaian teman sebaya dilakukan oleh peserta didik terhadap 3 (tiga) teman sekelas atau sebaliknya. Format yang digunakan untuk penilaian teman sejawat dapat digunakan format seperti contoh pada penilaian diri.

Tabel 1.1.6 contoh : Format Penilaian Teman Sebaya

Keterangan :
4 = Selalu
3 = Sering
2 = Jarang
1 = Sangat jarang

d. Penilaian Jurnal (Anecdotal Record)

Jurnal merupakan kumpulan rekaman catatan guru dan/atau tenaga kependidikan di lingkungan sekolah tentang sikap dan perilaku positif atau negatif, selama dan di luar proses pembelajaran mata pelajaran.

Contoh : Format Penilaian Jurnal

2. Penilaian Kompetensi Pengetahuan

Penilaian pengetahuan dapat di artikan sebagai penilaian potensi intelektual yang terdiri dari tahapan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensitesis, dan mengevaluasi (Anderson & Karthwol, 2001). Seorang pendidik perlu melakukan penilaian untuk mengetahui pencapaian kompetensi pengetahuan peserta didik. Penilaian terhadap pengetahuan peserta didik dapat dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Kegiatan penilaian terhadap pengetahuan tersebut dapat juga di gunakan sebagai pemetaan kesulitan belajar peserta didik dan perbaikan proses pembelajaran. Pedoman penilaian kompetensi pengetahuan ini di kembangkan sebagai rujukan teknis bagi pendidik untuk melakukan penilaian sebagaimana di kehendaki dalam Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dalam lampirannya menuliskan bahwa untuk semua mata pelajaran di SMP, Kompetensi Inti (KI) harus dimiliki oleh peserta didik pada ranah pengetahuan adalah memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

a. Pengetahuan Faktual

Pengetahuan faktual berisi konvensi (kesepakatan) dari elemen-elemen dasar berupa istilah atau simbol (notasi) dalam rangka memperlancar pembicaraan dalam suatu bidang disiplin ilmu atau mata pelajaran (Anderson, L. & Krathwohl, D. 2001). Pengetahuan faktual meliputi aspek-aspek pengetahuan istilah, pengetahuan khusus, dan elemen-elemen yang berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan sebagainya.

b. Pengetahuan Konseptual

Pengetahuan konseptual memuat ide (gagasan) dalam suatu disiplin ilmu yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan sesuatu objek atau mengelompokkan (mengkategorikan) berbagai objek. Pengetahuan konseptual meliputi prinsip (kaidah), hukum, teorema, atau rumus yang saling berkaitan dan terstruktur dengan baik (Anderson, L. & Krathwohl, D. 2001). Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan klasifikasi dan kategori pengetahuan dasar dan umum, pengetahuan teori, model, dan struktur.

c. Pengetahuan Prosedural

Pengetahuan prosedural adalah pengetahan tentang bagaimana urutan langkah-langkah dalam melakukan sesuatu. Pengetahuan prosedural meliputi pengetahuan dari umum ke khusus dan algoritma, pengetahuan metode dan teknik khusus dan pengetahuan kriteria untuk menentukan penggunaan prosedur yang tepat (Anderson, L. & Krathwohl, D. 2001).

Indikator pencapaian kompetensi pengetahuan di jabarkan dari Kompetensi Dasar (KD) yang merupaka jabaran dari Kompetensi Inti (KI) di setiap mata pelajaran. Penyusunan instrumen penilaian ditentukan oleh kata kerja operasional pada indikator juga dapat di gunakan untuk penentuan item tes (pertanyaan/soal), seperti dicontohkan pada tabel berikut.

Tabel 1.1.7 Kata Kerja Operasional pada Indikator

Selanjutnya disajikan contoh-contoh indikator yang dapat di kembangkan berdasarkan kompetensi dasar dalam kurikulum 2013.

Teknik penilaian kompetensi pengetahuan di lakukan dengan tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Tiap-tiap tersebut dilakukan melalui instrumen tertentu yang relevan. Teknik dan bentuk instrumen penilaian kompetensi pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.1.8 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian

• Tes tertulis

Bentuk soal tes tertulis, yaitu :

a) Memilih jawaban, dapat berupa :

(1) Pilihan ganda
(2) Dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
(3) Menjodohkan
(4) Sebab-akibat

b) Mensuplai jawaban, dapat berupa :

(1) Isian atau melengkapi
(2) Jawaban singkat atau pendek
(3) Uraian

Soal tes tertulis yang menjadi penilaia autentik adalah soal-soal yang menghendaki peserta didik merumuskan jawabannya sendiri, seperti soal-soal uraian. Soal-soal uraian menghendaki peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasannya dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katak-katanya sendiri, misalnya mengemukakan pendapat, berfikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan tes tertulis bentuk uraian antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas dan membutuhkan waktu lebih banyak dalam mengoreksi jawaban.

• Observasi terhadap diskusi, tanya jawab dan pertanyaan.

Penilaian terhadap pengetahuan peserta didik dapat dilakukan melalui observasi terhadap diskusi, tanya jawab, dan percakapan. Teknik ini adalah cerminan dari penilaian autentik. Ketika terjadi diskusi, guru dapat mengenal kemampuan peserta didik dalam kompetensi pengetahuan (fakta, konsep, prosedur) seperti melalui pengungkapan gagasan yang orisinal, kebenaran konsep, dan ketepatan penggunaan istilah/fakta/prosedur yang digunakan pada waktu mengungkapkan pendapat, bertanya, atau digunakan pada waktu mengungkapkan pendapat, bertanya, atau pun menjawaba pertanyaan. Seorang peserta didik yang selalu menggunakan kalimat yang baik dan benar menurut kaedah bahasa, menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki pengetahuan tata bahasa yang baik dan mampu menggunkan pengetahuan tersebut dalam kalimat-kalimat.

Tabel 1.1.9 contoh : Observasi terhadap diskusi, tanya jawab dan percakapan

Keterangan : di isi dengan ceklis (v)

• Penugasan

Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.

3. Penilaian Kompetensi Sikap Keterampilan

Penilaian pencapaian kompetensi keterampilan merupakan penilaian yang di lakukan terhadap peserta didik untuk menilai sejauh mana pencapaian SKL, KI, dan KD khusus dalam dimensi keterampilan.
Cakupan penilaian di mensi keterampilan, meliputi keterampilan peserta didik yang di pelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. Keterampilan ini meliputi : keterampilan mencoba, mengolah, menyaji, dan menalar. Dalam ranah konkret keterampilan ini mencakup aktivitas menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat. Sedangkan dalam ranah abstrak, keterampilan ini mencakup aktivitas menullis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang.
Berdasarkan Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Standar Penilaian, pendidik dapat melakukan penilaian kompetensi keterampilan dengan menggunakan :

a. Unjuk kerja/kinerja/praktik

Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti : praktikum di laboratorium, praktik ibadah, praktik olahraga, presentasi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, dan membaca puisi/deklamasi. Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik perlu mempertimbangkan hal berikut :

1) Langkah-langkah kinerja yang perlu dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi.
2) Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.
3) Kemampua-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
4) Kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga dapat diamati.
5) Kemampuan yang akan dinilai selanjutnya diurutkan berdasarkan langkah-langkah pekerjaan yang akan diamati.

Pengamatan unjuk kerja/kinerja/praktik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Misalnya untuk menilai kemampuan berbicara yang beragam dilakukan pengamatan terhadap kegiatan-kegiatan, seperti : diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan wawancara. Dengan demikian gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Contoh untuk menilai unjuk kerja/kinerja/praktik di laboratorium dilakukan pengamatan terhadap penggunaan alat praktikum. Untuk mengamati unjuk kerja/kinerja/praktik peserta didik dapat menggunakan instrumen sebagai berikut :

1. Daftar cek

Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguaasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai.

Tabel 1.2.1 contoh : instrumen penilaian praktik di laboratorium


2. Skala penilaian (Rating Scale)

kinerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya : 4 = sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup, 1 = kurang.

Tabel 1.2.2 contoh : Format instrumen penilaian praktik menggambar peta

Keterangan : di isi dengan tanda cek (v).

Kategori penilaian :
4 = sangat baik;
3 = baik;
2 = cukup; dan
1 = kurang.

b. Projek

Penilaian projek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasi kemampuan menyelediki, dan kemampuan menginformasi suatu hal secara jelas. Penilaian projek dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pelaporan. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti cara blok/membendung penyusunan desain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapan laporan tertulis/lisan. Untuk menilai setiap tahap perlu disiapkan kriteria penilaian atau rubrik.

Tabel 1.2.3 contoh : Format rubrik untuk menilai projek

c. Produk

Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk, seperti : peta timbul, peta lokasi, sarana kebersihan (contoh : tempat sampah dan sapu). Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian, yaitu :

  1. Tahapan persiapan, meliputi : penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, serta mendesain produk.
  2. Tahapan pembuatan produk (proses), meliputi : penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
  3. Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi : penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan, misalnya berdasarkan tampilan, fungsi, dan estetika. Penilaian produk biasanya menggunakan cara analitik atau holistik.
  4. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan (tahap : persiapan, pembuatan produk, penilaian produk).
  5. Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap penilaian produk.

Contoh Penilaian Produk :

d. Portofolio

Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya peserta didik secara individu pada satu periode untuk satu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik dan terus menerus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperhatikan dinamika kemampuan peserta didik dan terus menerus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan dinamika kemampuan belajar peserta didik melalui sekumpulan karyanya, antara lain : karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/literatur, laporan penilitian, sinopsis, dan karya nyata individu peserta didik yang diperoleh dari pengalaman.

Berikut hal-hal yang diperlu di perhatikan dalam melaksanakan penilaian portofolio :

1) Peserta didik merasa memiliki portofolio sendiri.
2) Tentukan bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan.
3) Kumpulkan dan simpan hasil kerja peserta didik dalam 1 map atau folder.
4) Beri tanggal pembuatan.
5) Tentuka kriteria untuk menilai hasil kerja peserta didik.
6) Minta peserta didik untuk menilai hasil kerja mereka secara berkisanambungan.
7) Bagi yang kurang beri kesempatan perbaiki karyanya, tentukan jangka waktunya.
8) Bila perlu jadwalkan pertemuan dengan orang tua.

Contoh : Format penilaian portofolio


e. Tertulis

Selain menilai kompetensi pengetahuan, penilaian tertulis juga digunakan untuk menilai kompetensi keterampilan, seperti menulis karangan, menulis laporan, dan menulis surat.

develop by Tim Penyusun Geography Online
email: tim.geography.online@gmail.com