Home Download Comment Referensi Contact Video
Keadaan alam dan aktivitas penduduk Indonesia

KEADAAN ALAM DAN AKTIVITAS PENDUDUK INDONESIA

Indonesia dikenal sebagai Negara kepulauan. Ribuan pulau membentang dari Sabang sampai Merauke dengan keanekaragaman keadaan alamnya yang sangat luar biasa menawan  dengan dianugrahi landscape yang seakan tak pernah habis,  sehingga banyak bangsa lain yang tertarik datang hanya untuk menikmati keadaan alam Indonesia. Landscape yang sedemikan rupa terbentuk dari beberapa pertemuan lempeng. Di jelaskan dalam teori tektonik lempeng bahwa negara Indonesia terletak di dekat batas Eurasia dan Indo-Australia. Jenis batas antara kedua lempeng ini adalah konvergen. Lempeng Indo-Australia adalah lempeng yang menunjam kebawah lempeng Eurasia. Selain itu di bagian timur, bertemu 3 lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Philipina, Pasifik, dan Indo-Australia.

Subduksi yang terjadi antara kedua lempeng menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi dan parit samudra, yaitu deretan gunung berapi Bukit Barisan di Pulau Sumatra dan deretan gunung berapi sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Lombok, serta samudra yang tak lain dalah Parit Jawa (Sunda).

Selain karena subduksi antara beberapa lempeng dibumi keadaan alam di Indonesia dipengaruhi oleh letak wilayah Indonesia baik letak astronomisnya maupun letak geografisnya. Letak suatu tempat di permukaan bumi tidak hanya sekedar posisi suatu objek di permukaan bumi, tetapi juga karakteristik yang ada pada tempat tersebut. Letak Indonesia dapat di lihat dari beberapa sudut pandang, diantaranya sebagai berikut :

  • Letak Astronomis

   Karakteristik suatu daerah dapat kita kaji melalui beberapa unsur, yang salah satunya adalah letak. Letak merupakan keberadaan suatu daerah. Setiap  daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara daerah satu dengan daerah yang lain. Perbedaan karakteristik tersebut yang menyebabkan keberagaman Indonesia. Oleh karana itu, Indonesia sangat terkenal diseluruh dunia karena keberagamannya. Gambar 1.1 adalah peta letak astronomis wilayah Indonesia.

    Letak astronomis adalah letak suatu tempat berdasarkan garis lintang dan garis bujurnya. Garis lintang adalah garis khayal yang melintang melingkari bumi. Garis bujur adalah garis yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Secara astronomis, Indonesia terletak antara 950 BT – 1410 BT dan 60 LU – 110 LS. Dengan letak astronomis tersebut, Indonesia termasuk ke dalam wilayah tropis. Wilayah tropis dibatasi oleh lintang 23,50 LU dan 23,50 LS. Perhatikanlah batas wilayah tropis dan letak astronomis Indonesia pada peta berikut ini.

    Dengan iklim yang bersahabat ini kita patut bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia. Sinar matahari selalu ada sepanjang tahun dan suhu udara tidak ekstrim (tidak jauh berbeda antarmusim) sehingga masih cukup nyaman untuk melakukan berbagai kegiatan di dalam dan di luar rumah. Lama siang dan malam juga hampir sama, yaitu 12 jam siang dan 12 jam malam. Bandingkan dengan negara-negara yang terletak di lintang sedang misalnya, Amerika Serikat. Pada musim panas, lama siang jauh lebih lama dibandingkan dengan malam. Sebaliknya, pada musim dingin, lama siangnya lebih pendek.

   Keadaan suhu di daerah tropis berbeda dengan suhu di negara-negara yang terletak pada lintang sedang dengan empat musim, yaitu musim dingin, semi, panas, dan gugur. Pada musim dingin, udara sangat dingin sampai mencapai puluhan derajat di bawah nol celsius, sehingga diperlukan penghangat ruangan.

   Dengan letak astronomisnya, menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis. Salah satu cirinya adalah memiliki hutan hujan tropis, seperti dibawah ini :

(gambar hutan hujan tropis sumatera)

   Hutan hujan tropis yang ada di Indonesia sebagian besar berada di pulau Sumatra. Hutan hujan tropis dihuni oleh beberapa tumbuhan dan hewan-hewan langka serta suku-suku pedalam Sumatra. Seperti suku anak dalam dan suku mentawai.

(penghuni hutan hujan tropis sumatra)

    Masyarakat Mentawai bersifat Patrilinial, suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah. Kelompok-kelompok patrilinial ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok Uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam Uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "Sikerei" (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.

    Dalam melakukan kegiatan berburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah Uma maka biasanya dilakukan secara bersama dan mengelompok membentuk kelompok sosial oleh seluruh anggota Uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin.  

    Kelompok sosial merupakan sekumpulan manusia yang memiliki persamaan ciri dan memiliki pola interaksi yang terorganisir secara berulang-ulang, serta memiliki kesadara bersama akan keanggotaannya.

   Secara umum terdapat beberapa alasan yang mendasari orang membentuk kelompok sosial yaitu:

1.    Faktor kepentingan yang sama ( Common Interest)

2.    Faktor darah  dan keturunan yang sama (Common Ancestry)

3.    Faktor geografis

4.    Faktor daerah asal yang sama

  Di masa lalu masyarakat Mentawai mengenal panaki, suatu upacara untuk membuka hutan menjadi ladang. Masyarakat tradisional Mentawai percaya bahwa hutan merupakan kepercayaan tradisional yang diyakini sebagai tempat roh-roh leluhur yang turut menjaga segala jenis tumbuh-tumbuhan obat yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, kepercayaan tersebut dikenal dengan Arat Sabulungan. Oleh karena masyarakat Mentawai sangat menghormati alam.

    Seiring berjalannya waktu masyarakat Mentawai berbaur dengan masyarakat kota dan desa. Kegiatan ekonomi semakain berkembang dari mulai barter sampai menggunakan uang rupiah sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

  • Letak Geografis

    Letak geografis adalah letak suatu negara di permukaan bumi. Secara geogarfis, Indonesia terletak dianatar dua benua dan dua samudra. Benua yang mengapit Indonesia adalah benua Asia yang terletak di sebelah utara Indonesia dan Benua Australia yang terletak di sebelah selatan Indonesia. Samudra yang mengapit Indonesia adalah samudra Pasifik disebelah timur Indonesia dan samudra Hindia di sebelah barat Indonesia.

   Wilayah Indonesia juga berbatasan dengan sejumlah wilayah. Batas-batas wilayah Indonesia dengan wilayah lainnya adalah seperti berikut :

  •  
    • Di sebelah Utara, Indonesia berbatasan dengan Malaysia, Singapura, P. Filipina dan Laut Cina Selatan.
    • Di sebelah Selatan, Indonesia berbatasan dengan Timor Leste, Australia, dan Samudra Hindia.
    • Di sebelah Barat, Indonesia berbatasan dengan Samudra Hindia.
    • Di sebelah Timur, Indonesia berbatasan dengan Papua Nugini dan Samudra Pasifik.

   Perhatikan gambar di bawah ini!

(peta letak geografis indonesia dan batas-batas wilayah dengan negara lain)

    Letak Indonesia berpengaruh pada sosial, budaya, dan ekonomi. Karena menjadi jalur lalulintas perdagangan dunia. Indonesia juga ikut andil dalam kerjasama perekonomian internasional.

    Berdasarkan jumlah negara dalam melakukan kerja sama, dapat di bedakan menjadi berikut :

1.  Kerjasama Bilateral

Kerjasama bilateral adalah kerjasama yang dilakukan antara dua Negara. Kerjasama ini biasanya dalam bentuk hubungan diplomatik, perdagangan, pendidikan dan kebudayaan

2.  Kerjasama Regional

Kerjasama regional adalah kerjasama yang dilakukan oleh beberapa Negara dalam suatu kawasan atau wilayah. Kerja sama ini biasanya dilakukan karena adanya kepentingan bersama baik dalam bidang politik, ekonomi dan pertahanan. Contoh kerja sama regional antara lain ASEAN dan Liga Arab.

3.  Kerjasama multilateral

Kerjasama Multilateral adalah kerja sama yang dilakukan beberapa Negara. Contoh kerjasama ini antara lain Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Bentuk kerja sama dalam bidang perekonomian adalah OPEC (Organization of Petrolium Exporting Counters). OPEC merupakan negara-negara pengekspor minyak dunia.

(gambar OPEC)

   Sedangkan pertukaran budaya asing dan lokal terjadi dibeberapa aspek, diantaranya kuliner, musik,  pakaian, dan prilaku.

(gambar prilaku pertukaran budaya)

Keadaan Alama Indonesia

Alam Indonesia dikenal sangat indah dan kaya akan berbagai sumber daya alam. Tidak heran jika banyak wisatawan dari berbagai negara tertarik dan datang ke Indonesia. Kegiatan pariwisata pun berkembang di sejumah wilayah seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, dan lain-lain sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit.

Keadaan alam dibumi sendiri sering berubah-ubah. Perubahan bentuk muka bumi terjadi tidak lain karena pergerakan lempeng yang tiap tahun mengalami pergeseran yang tidak begitu nampak. Perubahan tersebut juga mempengaruhi pola kehidupan manusia dan mahluk lainnya yang hidup di dalamnya.

Masa prasejarah terjadi pada zaman es atau  kala plestosen, dimana bagian barat Indonesia berhubungan dengan daratan asia tenggara, sedangkan bagian timur wilayah Indonesia berhubungan dengan Australia. Pada masa prasejarah kehidupan manusia sangat bergantung pada alam, mereka memiliki rasa kekerabatan yang kuat dengan sesama manusia dengan tujuan yang sama.  Interaksi antara sesama manusia dan dengan alam sangat terlihat, manusia pada masa prasejarah selalu memanfaatkan apa yang ada di alam, namun tetap menjaga pelestariannya. Prilaku dan kebutahan pada alam belum begitu komplek seperti sekarang. Manusia membutuhkan alam hanya sekedar mencari makan dan tempat tinggal.

Masa ini merupakan masa yang paling panjang dalam pembabakan prasejarah, keadaan alamnya masih sangat labil baik dilihat dari kondisi muka bumi maupun dilihat dari keadaan iklimnya. Ketika air laut sudah naik sehingga kepulauan Indonesia yang semula merupakan satu daratan dengan benua Asia telah terpisah. Hal ini disebabkan karena lapisan dibagian utara bumi mencair. Dangkalan Sunda (Sunda Plat) atau dikenal dengan yang terletak di Indonesia bagian barat terbentuk pada masa ini. Dengan demikian pulau Sumatra tidak hanya terpisah dari daratan Asia tetapi juga terpisah dengan pulau Jawa dan Kalimantan. Sedangkan dangkalan Sahul (Sahul Plat) yang terletak di sebelah timur yang menghubungkan kepulauan Indonesia dengan benua Australia telah terbentuk pula tetapi masih labil. Kedua dangkalan tersebut dipisahkan oleh garis Wallace (antara selat lombok sampai selat makasar).


Keadaan alam kita semakin hari semakin mengkhawatirkan, karena lapisan ozon yang dulu tebal sekarang sudah semakin menipis. Hal itu terjadi karena kondisi lingkungan alam yang tidak seimbang dan banyak terjadi polusi dimana-mana. Perubahan keadaan alam yang semakin mengkhawatirkan karena fakor alam, namun tidak lepas dari perilaku manusia yang dapat  merusak alam.  Pada masa sekarang ini, sangat jarang kita sebagai manusia yang peduli terhadap alam.

Keadaan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu keadaan fisik wilayah serta keadaan flora dan fauna. Keadaan fisik wilayah terdiri atas keadaan iklim dan keadaan bentuk permukaan bumi (kondisi  fisiografis) yang kemudian akan menentukan jenis tanahnya. Sementara keadaan flora dan fauna menyangkut jenis keragaman dan sebarannya.

1.  Keadaan Iklim Indonesia

Letak astronomis Indonesia yang berada di wilayah tropis membuat Indonesia beriklim tropis. Ciri-ciri daerah tropis adalah lama siang dan malam hampir sama yaitu sekitar 12 jam siang dan 12 jam malam. Secara umum keadaan iklim di Indonesia dipengaruhi oleh tiga jenis iklim, yaitu iklim musim, iklim laut, dan iklim panas. Gambaran ketiga jenis iklim tersebut adalah sebagai berikut.

a. Iklim musim, dipengaruhi oleh angin musim yang berubah-ubah setiap periode waktu tertentu. Biasanya periode perubahan selama enam bulan.

b. Iklim laut, terjadi kerana Indonesia memiliki wilayah laut yeng luas sehingga banyak menimbulkan penguapan dan akhirnya mengakibatkan terjadinya hujan.

c.  Iklim panas, terjadi karena Indonesia berada di daerah tropis. Suhu yang tinggi mengakibatkan penguapan yang tinggi dan berpotensi untuk terjadinya hujan.

Ketiga jenis iklim tersebut berdampak pada tingginya curah hujan di Indonesia. Curah hujan di Indonesia bervariasi antarwilayah, tetapi umumnya sekitar 2.500 mm/tahun. Walaupun angka curah hujan bervariasi antarwilyah di Indonesia, tetapi pada umumnya curah hujan tergolong besar. Kondisi curah hujan yang besar ditunjang  dengan  penyinaran matahari yang cukup membuat Indonesia sangat cocok untuk kegiatan pertanian sehingga mampu memenuhi kebutuhan penduduk akan pangan.

Hal yang menarik bagi Indonesia adalah terjadinya  angin  muson. Angin muson adalah angin yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara samudra dan benua.

Pada saat samudra menerima penyinaran matahari, diperlukan waktu yang lebih lama untuk memanaskan samudra.

Sementara itu, benua lebih cepat menerima panas. Akibatnya, samudra bertekanan lebih tinggi dibandingkan dengan benua, maka bergeraklah udara dari samudra ke benua.

Pada saat musim hujan di Indonesia (Oktober sampai April), angin muson yang  bergerak dari  Samudra Pasifik  menuju  wilayah  Indonesia dibelokkan oleh gaya corioli sehingga berubah arahnya menjadi angin barat atau disebut angin muson barat.

Pada saat bergerak menuju wilayah Indonesia, angin muson dari Samudra Pasifik  telah  membawa banyak uap  air  sehingga  diturunkan sebagai hujan di Indonesia. Perhatikan Gambar 1.2 pada halaman sebelumnya untuk melihat pola pergerakan angin muson barat.

Peristiwa sebaliknya terjadi pada saat musim kemarau (Mei sampai September). Pada saat itu, angin muson dari Benua Australia atau disebut angin timur yang bertekanan maksimun bergerak menuju Benua Asia yang bertekanan minimum melalui wilayah Indonesia. Karena Benua Australia sekitar 2/3 wilayahnya berupa  gurun,  udara yang  bergerak tadi relatif sedikit uap air yang dikandungnya.  Selain itu, udara tadi hanya melewati wilayah lautan yang sempit antara Australia dan Indonesia sehingga sedikit pula uap yang dikandungnya. Pada  saat  itu,  di  Indonesia  terjadi  musim  kemarau.  Perhatikan Gambar  1.3  untuk  melihat  arah  pergerakan  angin  muson  timur.


Pada musim hujan, petani Indonesia mulai mengerjakan lahannya untuk bercocok tanam. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang membutuhkan air pada awal pertumbuhannya, contohnya padi. Sementara itu, nelayan Indonesia justru mengurangi kegiatan melaut karena biasanya pada musim hujan sering terjadi cuaca buruk dan gelombang laut cukup besar sehingga membahayakan mereka. Ikan juga  lebih  sulit  ditangkap  sehingga  terjadi  kelangkaan  pasokan  ikan dan akibatnya harga ikan lebih mahal daripada biasanya. Musim hujan tentu tidak banyak berpengaruh pada aktivitas masyarakat Indonesia yang pekerjaannya tidak berhubungan langsung dengan alam, misalnya pegawai atau karyawan.

Pada saat musim kemarau, sebagian petani terpaksa membiarkan lahannya tidak ditanami karena tidak ada pasokan air. Sebagian lainnya masih dapat bercocok tanam dengan memanfaatkan air dari sungai, saluran irigasi atau memanfaatkan sumber buatan.

Ada pula petani yang berupaya bercocok tanam walaupun tidak ada air yang cukup dengan memilih jenis tanaman atau varietas yang tidak memerlukan banyak air. Pada saat musim kemarau, nelayan dapat mencari ikan di laut tanpa banyak terganggu oleh cuaca buruk. Hasil tangkapan ikan juga biasanya lebih besar dibandingkan dengan hasil tangkapan pada musim hujan sehingga pasokan ikan juga cukup berlimpah.

Pola angin muson yang bergerak menuju wilayah Indonesia pada saat angin barat dimanfaatkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia untuk melakukan perpindahan atau migrasi dari Asia ke berbagai wilayah di Indonesia. Perahu yang digunakan untuk melakukan migrasi tersebut masih sangat sederhana dan pada saat itu masih mengandalkan kekuatan angin sehingga arah gerakannya mengikuti arah gerakan angin muson.

Keadaan iklim pada saat nenek moyang datang ke Indonesia tentu berbeda dengan keadaan iklim saat ini. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa keadaan curah hujan saat ini tergolong tinggi, tetapi tidak merata. Ada wilayah dengan curah hujan yang tinggi, tetapi juga ada yang sebaliknya. Untuk mengetahui sebaran curah hujan di Indonesia dapat dilihat pada peta 1.3 berikut ini.


2.  Bentuk Muka Bumi dan Aktivitas Penduduk Indonesia

Indonesia terdiri atas belasan ribu pulau, baik yang berukuran besar maupun  yang  berukuran  kecil.  Jumlah  pulau  seluruhnya  mencapai 13.466 buah. Luas wilayah Indonesia mencapai 5.180.053 km2, terdiri atas daratan seluas 1.922.570 km2  dan lautan seluas 3.257.483 km2. Ini berarti wilayah lautannya lebih luas daripada wilayah daratannya.

Jika kamu perhatikan keadaan pulau-pulau di Indonesia, tampak adanya keragaman bentuk muka bumi. Bentuk muka bumi Indonesia dapat dibedakan menjadi dataran rendah, dataran tinggi, bukit, gunung, dan pegunungan. Sebaran dari bentuk muka bumi Indonesia tersebut dapat dilihat pada peta sebaran bentuk muka bumi atau peta  fisiografi Indonesia (Gambar 1.5).

Pada peta  fisiografi,  tampak sebaran  bentuk  muka  bumi  Indonesia mulai dataran rendah sampai pegunungan. Untuk membaca peta tersebut, perhatikanlah legenda atau keterangan peta. Simbol berwarna kuning menunjukkan dataran rendah, warna hijau menunjukkan daerah perbukitan, warna cokelat menunjukkan pegunungan.

Secara umum, setiap bentuk muka bumi menunjukkan pola aktivitas penduduk yang berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Adapun gambaran tentang keadaan muka bumi Indonesia dan aktivitas penduduknya adalah sebagai berikut.

a. Dataran Rendah

Dataran rendah adalah bagian dari permukaan bumi dengan letak ketinggian 0-200 m di atas permukaan air laut (dpal). Di daerah dataran rendah, aktivitas yang dominan adalah aktivitas permukiman dan pertanian. Di daerah ini biasanya terjadi aktivitas pertanian dalam skala luas dan pemusatan penduduk yang besar. Di Pulau Jawa, penduduk memanfaatkan lahan dataran rendah untuk menanam padi, sehingga pulau Jawa menjadi sentra penghasil padi terbesar di  Indonesia. Ada beberapa alasan terjadinya aktivitas  pertanian dan permukiman di daerah dataran rendah, yaitu seperti berikut.

1) Di daerah dataran rendah, penduduk mudah melakukan pergerakan atau mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya.

2) Di daerah dataran rendah, banyak dijumpai lahan subur karena biasanya berupa tanah hasil endapan yang subur atau disebut tanah alluvial.

3) Dataran rendah dekat dengan pantai, sehingga banyak penduduk yang bekerja sebagai nelayan.

4) Daerah dataran rendah memudahkan penduduk untuk berhubungan dengan dunia luar melalui jalur laut.

Begitu pula pada masa prasejarah, dimulai dari bercocok tanam di ikuti pertumbuhan penduduk yang semakin banyak. Dengan hasil yang diperoleh dari bercocok tanam , penduduk saling melakukan barter untuk mencukupi kebutuhan hidup. Sedangkan distribusi untuk daerah yang jauh menggunakan sarana sungai  dan darat. Masyarakat prasejarah tidak hanya mengenal barter, tetapi juga berkomunikasi. Menurut penelitian bahasa, bahasa yang di gunakan di kepulauan Indonesia adalah bahasa Melayu-Polinesia atau  lebih dikenal dengan rumpun bahasa “basic vocabulary”. Yang digunakan di kepulauan Austronesia hingga Polinesia. Bahasa Mon-Khamer-Thai di Asia Tenggara kerumpunannya juga memiliki kesamaan.

Dengan berbagai keuntungan tersebut, banyak penduduk bermukim di dataran rendah. Pemusatan penduduk di dataran rendah kemudian berkembang  menjadi  daerah  perkotaan.  Sebagian  besar  daerah perkotaan di Indonesia, bahkan dunia, terdapat di dataran rendah. Aktivitas pertanian di dataran rendah umumnya adalah aktivitas pertanian lahan basah. Aktivitas pertanian lahan basah dilakukan di daerah yang sumber airnya cukup tersedia untuk mengairi lahan pertanian. Lahan basah umumnya dimanfaatkan untuk tanaman padi yang dikenal dengan pertanian sawah.

Selain memiliki aktivitas penduduk tertentu yang dominan berkembang, dataran rendah juga memiliki potensi bencana alam. Bencana alam  yang  berpotensi terjadi di dataran  rendah  adalah banjir, tsunami, dan gempa.

Banjir di dataran rendah terjadi karena aliran air sungai yang tidak mampu lagi ditampung oleh alur sungai. Tidak mampunya sungai menampung aliran air dapat terjadi karena aliran air dari daerah hulu yang terlalu besar, pendangkalan sungai, penyempitan alur sungai, atau banyaknya sampah di sungai yang menghambat aliran sungai.

Bencana banjir memiliki beberapa tanda yang dapat kita lihat. Secara umum, tanda-tanda tersebut antara lain sebagai berikut :

1) Terjadinya hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi tanpa disertai dengan proses infiltrasi/penyerapan yang  baik.

2) Air melebihi batas sempadan sungai sehingga meluap dan menggenangi daerah sekitarnya.

3) Air yang jatuh ke permukaan tidak dapat mengalir dengan baik karena saluran drainase yang ada tidak berfungsi dengan baik sehingga air tersumbat dan tidak dapat mengalir dengan baik.

4) Air tidak menyerap ke dalam tanah karena berkurangnya vegetasi sebagai penyerap atau penyimpan air.

Pantai merupakan bagian dari dataran rendah yang berbatasan langsung dengan laut. Di daerah pantai, ancaman bencana yang mengancam penduduk adalah tsunami. Potensi bencana yang juga mengancam daerah pantai adalah gempa. Sebenarnya tidak semua wilayah pantai di Indonesia berpotensi gempa. Pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa sampai Nusa Tenggara berpotensi gempa. Pantai di Pulau Kalimantan relatif aman dari gempa karena jauh dari pusat gempa. Wilayah lainnya adalah Sulawesi, Maluku, Papua, dan sejumlah pulau lainnya. Ancaman gempa juga dapat terjadi di daerah perbukitan dan pegunungan.

b. Bukit dan Perbukitan

Bukit adalah bagian dari permukaan bumi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya dengan ketinggian kurang dari 600 m dpal. Perbukitan berarti kumpulan dari sejumlah bukit pada suatu wilayah tertentu. Bukit atau perbukitan terbentuk dari gerakan pengangkatan permukaan bumi (Orogenesa), erosi (pengikisan), dan aktivitas gunung api.  Pemukiman di daerah perbukitan tersebar tidak merata, berdasarkan daerah-daerah yang landai dan terdapat aliran sungai. Sedangkan lahan lainnya digunakan sebagai lahan pertanian dengan teknik sengkedan atau pertanian kering.

Aktivitas ekonomi, khususnya pertanian, dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan dengan kemiringan lereng tertentu. Untuk memudahkan penanaman, penduduk menggunakan teknik sengkedan dengan memotong bagian lereng tertentu agar menjadi datar. Teknik ini kemudian juga bermanfaat mengurangi erosi atau pengikisan oleh air.

Aktivitas pertanian di daerah perbukitan, pada umumnya pertanian lahan kering. Pertanian lahan kering merupakan pertanian yang dilakukan di wilayah yang pasokan airnya terbatas atau hanya mengandalkan air hujan. Istilah pertanian lahan kering sama dengan ladang atau huma yang dilakukan secara menetap maupun berpindah- pindah seperti di Kalimantan.

Tanaman yang ditanam umumnya adalah umbi-umbian atau palawija dan tanaman tahunan (kayu dan buah-buahan). Pada bagian lereng yang masih landai dan lembah perbukitan, sebagian penduduk juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman padi.

Daerah perbukitan sulit berkembang menjadi sebuah pusat aktivitas perekonomian, karena mobilitas manusia tidak semudah di daerah dataran sehingga pemusatan permukiman dan industri relatif terbatas. Meskipun demikian, daerah perbukitan dapat dikembangkan menjadi daerah pariwisata karena panorama alamnya yang indah dan suhu udaranya yang sejuk. Aktivitas pariwisata yang dapat dikembangkan antara lain wisata alam yang tujuannya menikmati pemandangan daerah perbukitan yang indah.

c. Dataran tinggi

Dataran tinggi adalah adalah daerah datar yang memiliki ketinggian lebih dari 400 meter dpal. Daerah ini memungkinkan mobilitas penduduk berlangsung lancar seperti halnya di dataran rendah. Oleh karena itu, beberapa dataran tinggi di Indonesia berkembang menjadi pemusatan ekonomi penduduk, contohnya Dataran Tinggi Bandung, Dataran Tinggi Karo Sumatera Utara, dan Dataran Tinggi Dieng.

Candi-candi di Dieng didirikan oleh Kerajaan Kalingga dari Dinasti Sanjaya. Dalam kitab Raja Sanjaya ada disebut-sebut kata ‘Dieng’ yang dikatakan merupakan tempat paling baik untuk memuja Dewa Siwa. Jadi candi-candi itu dibuat untuk memuja Dewa Siwa. Siwa adalah dewa perusak. Dipuja agar ia tidak merusak kehidupan manusia. Ditengah-tengah dataran tinggi Dieng dahulu terdapat tempat pemujaan dan asrama pendidikan Hindu tertua di Indonesia. Sebagai bangunan suci tersebut sampai sekarang dapat kita saksikan dengan adanya candi beserta puing-puing bekas Vihara.

Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah plateu yang terjadi karena letusan dasyat sebuah gunung berapi. Dengan demikian kondisi geologisnya samapai sekarang masih relatif labil bahkan sering terjadi gerakan-geraka tanah. Beberapa bukti menunjukan gerakan-gerakan tanah yaitu, peristiwa hilangnya Desa Legetang, terpotongnya jalan antara Banjarnegara Karangkobar dan Sukoharjo Ngadirejo maupun retakan-retakan tanah yang mengeluarkan gas beracun seperti peristiwa Sinila. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15-20°C di siang hari dan 10°C di malam hari.

Pertanian juga berkembang di dataran tinggi. Di daerah ini, sebagian penduduk menanam kentang dan beberapa jenis sayuran. Suhu yang tidak terlalu panas memungkinkan penduduk menanam beberapa jenis sayuran seperti tomat dan cabe.

Sejumlah dataran tinggi menjadi daerah tujuan wisata. Udaranya yang sejuk dan pemandangan alamnya yang indah menjadi daya tarik penduduk untuk berwisata ke daerah dataran tinggi. Beberapa dataran tinggi di Indonesia menjadi daerah tujuan wisata misalnya Bandung dan Dieng.

d. Gunung dan Pegunungan

Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi    dibandingkan  dengan  daerah  sekitarnya.  Biasanya  bagian yang menjulang dalam bentuk puncak-puncak dengan ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Pegunungan adalah bagian dari daratan yang merupakan kawasan yang terdiri atas deretan gunung-gunung dengan ketinggian lebih dari 600 meter dpal.

Indonesia memiliki banyak gunung dan pegunungan. Sebagian gunung merupakan gunung berapi. Keberadaan gunung berapi tidak hanya menimbulkan bencana, tetapi juga membawa manfaat bagi wilayah sekitarnya. Material yang dikeluarkan oleh gunung berapi memberikan kesuburan bagi wilayah di sekitarnya. Hal itu menjadi salah satu alasan bagi  penduduk untuk tinggal di wilayah sekitar gunung berapi karena lahan tersebut sangat subur untuk kegiatan pertanian.

Gunung berapi adalah gunung yang memiliki lubang kepundan atau  rekahan  dalam  kerak  bumi  tempat  keluarnya  cairan  magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Ciri gunung berapi adalah adanya kawah atau rekahan. Sewaktu-waktu gunung berapi tersebut dapat meletus.

Sebagian gunung yang ada di Indonesia merupakan gunung berapi yang aktif. Ciri gunung berapi yang aktif adalah adanya aktivitas kegunungapian seperti semburan gas, asap, dan lontaran material dari dalam gunung berapi.

Di Indonesia, sebagian besar gunung berapi tersebar di sepanjang Pulau Sumatera, Jawa sampai Nusa Tenggara. Gunung berapi juga banyak ditemui di Pulau Sulawesi dan Maluku. Beberapa gunung berapi di Nusantara sangat terkenal di dunia karena letusannya yang sangat dahsyat, yaitu gunung berapi Tambora dan Krakatau.

Penduduk yang tinggal di gunung atau pegunungan memanfaatkan lahan yang terbatas untuk pertanian. Lahan-lahan dengan kemiringan yang cukup besar masih dimanfaatkan penduduk. Komoditas yang dikembangkan biasanya adalah sayuran dan buah-buahan. Sebagian penduduk memanfaatkan lahan yang miring dengan menanam beberapa jenis kayu untuk dijual. Seperti halnya di daerah perbukitan, aktivitas permukiman sulit dilakukan secara luas. Hanya pada bagian tertentu saja yang relatif datar dimanfaatkan untuk permukiman. Permukiman dibangun di daerah yang dekat dengan sumber air, terutama di lereng bawah atau di kaki gunung.

Selain pertanian, aktivitas lainnya yang berkembang adalah pariwisata. Pemandangan alam yang indah dan udaranya yang sejuk menjadi daya tarik wisata. Keragaman bentuk muka bumi ternyata diikuti pula oleh keragaman aktivitas penduduk dan komoditas yang dihasilkannya. Daerah pegunungan dan perbukitan pada umumnya menghasilkan produk-produk pertanian berupa sayuran, buah-buahan, dan palawija. Daerah ini memasok kebutuhan penduduk di daerah dataran yang umumnya merupakan pusat-pusat permukiman penduduk. Sebaliknya, daerah dataran menghasilkan banyak produk industri yang dikonsumsi oleh daerah lainnya.

Mobilitas penduduk dan barang terjadi di antara daerah-daerah tersebut karena perbedaan aktivitas penduduk dan komoditas yang dihasilkannya. Potensi bencana alam di daerah pegunungan adalah longsor dan letusan gunung api.

3.  Keragaman Flora dan Fauna di Indonesia

Indonesia memiliki keragaman flora dan fauna (keanekaragaman hayati) yang sangat besar. Bahkan, keanekaragaman hayati Indonesia termasuk tiga besar di dunia bersama-sama dengan Brazil di Amerika Selatan dan Zaire di Afrika. Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan, pada tahun 1999 jumlah spesies tumbuhan di Indonesia mencapai 8.000  spesies yang  sudah teridentifikasi  dan  jumlah  spesies hewan mencapai 2.215 spesies. Spesies hewan terdiri atas 515 mamalia, 60 reptil, 1.519 burung, dan 121 kupu-kupu.

Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah fosil jenis tumbuhan Praaksara di zaman paleozoikum, antara lain pohon jeruk pohon salam, dan pohon rasamala. Selain itu, ada tumbuh-tumbuhan yang boleh dimakan seperti jenis umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran. Tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh liar di hutan. Fosil hewan di Indonesia sebagian besar ditemukan di Jawa dan pada umumnya diketahui letak stratigrafinya, sehingga dapat dilakukan penggolongan.  Fauna Jetis ditemukan di daerah sepanjang  pegunungan Kendeng, seperti  di daerah Mojokerto dan Sangiran. Jenis fauna Jetis antara lain terdiri dari Eplmachaldus, Leptobos, beberapa jenis antelop, macam-macam Sus, Hippotamus, cervus, stegodon dan Elephants.

Besarnya keanekaragaman hayati di Indonesia berkaitan erat dengan kondisi iklim dan  kondisi  fisik wilayah. Suhu dan curah hujan yang besar memungkinkan tumbuhnya beragam jenis tumbuhan. Mengapa demikian? Tumbuhan memerlukan air dan suhu yang sesuai. Makin banyak air tersedia makin banyak tumbuhan yang dapat tumbuh dan karena itu makin banyak hewan yang dapat hidup di daerah tersebut.

Bukti dari pernyataan tersebut dapat kamu bandingkan antara daerah dengan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia dan daerah gurun yang curah hujannya sangat kecil. Keanekaragaman flora  dan   fauna Indonesijaulebibanyadibandingkadengakeanekaragaman flora dan  fauna daerah gurun.

a. Persebaran Flora di Indonesia

Flora di Indonesia ternyata dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu Indo-Malayan dan Indo-Australian. Perbandingan karakteristik flora yang ada di Indonesia Barat dan Indonesia Timur adalah sebagai berikut.

Kelompok Indo-Malayan meliputi kawasan Indonesia Barat. Pulau-pulau yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Kelompok Indo-Australian meliputi tumbuhan yang ada kawasan Indonesia Timur. Pulau-pulau yang termasuk dalam Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Berbagai jenis flora yang ada di Indonesia telah  dimanfaatkan untuk  memenuhi kebutuhan manusia, baik sebagai bahan furniture, bahan bangunan, bahan makanan, dan lain-lain. Sebagai contoh, rotan banyak dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan kursi, meja, dan perabotan rumah tangga lainnya. Berbagai jenis kerajinan dihasilkan dengan memanfaatkan bahan dari rotan. Sentra penghasil produk kerajinan tersebut banyak berkembang di daerah-daerah tertentu, misalnya di Cirebon dan daerah lainnya di Pulau Jawa.

b. Persebaran Fauna di Indonesia

Fauna Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga corak yang berbeda, yaitu fauna bagian barat, tengah, dan timur. Garis yang memisahkan fauna Indonesia bagian Barat dan Tengah dinamakan garis Wallace, sedangkan garis yang memisahkan fauna Indonesia bagian Tengah dan Timur dinamakan Garis Weber.

Fauna bagian barat memiliki ciri atau tipe seperti halnya fauna Asia sehingga disebut tipe Asiatis (Asiatic). Fauna bagian timur memiliki ciri atau tipe yang mirip dengan fauna yang hidup di Benua Australia sehingga disebut tipe Australis (Australic). Fauna bagian tengah merupakan fauna peralihan yang ciri atau tipenya berbeda dengan fauna  Asiatis  maupuAustralis.  Faunanymemilikciri  tersendiri yang tidak ditemukan di tempat lainnya di Indonesia. Fauna tipe ini disebut fauna endemik.

1) Fauna Indonesia Bagian Barat

Fauna Indonesia bagian Barat atau tipe asiatis mencakup wilayah Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Mamalia berukuran besar banyak ditemui di wilayah ini seperti gajah, macan, tapir, badak bercula satu, banteng, kerbau, rusa, babi hutan, orang utan, monyet, bekantan, dan lain-lain. Di samping mamalia, di wilayah ini banyak pula ditemui reptil seperti ular, buaya, tokek, kadal, tokek, biawak, bunglon, kura-kura, dan trenggiling. Berbagai jenis burung yang dapat ditemui seperti burung hantu, gagak, jalak, elang, merak, kutilang, dan berbagai macam unggas. Berbagai macam ikan air tawar seperti pesut (sejenis lumba-lumba di Sungai Mahakam) dapat ditemui di wilayah ini. Gambar 1.12 adalah contoh fauna Indonesia bagian Barat.


2) Fauna Indonesia Tengah atau tipe Peralihan

Fauna Indonesia Tengah merupakan tipe peralihan atau Austral Asiatic. Wilayah fauna Indonesia Tengah disebut pula wilayah fauna kepulauan Wallace, mencakup Sulawesi, Maluku, Timor, dan Nusa Tenggara serta sejumlah pulau kecil di sekitar pulau-pulau tersebut. Fauna yang menghuni wilayah ini antara lain babi rusa, anoa, ikan duyung, kuskus, monyet hitam, kuda, sapi, monyet saba, beruang, tarsius, sapi,  dan  banteng. Selain  itu terdapat pula  reptil, amfibi, dan berbagai jenis burung. Reptil yang terdapat di daerah ini di antaranya biawak, komodo, buaya, dan ular. Berbagai macam  burung  yang terdapat di wilayah ini di antaranya maleo, burung dewata, mandar, raja udang, rangkong, dan kakatua nuri.

Berikut ini gambar contoh fauna Indonesia bagian Tengah :

3)  Fauna Indonesia Bagian Timur

Fauna Indonesia bagian Timur atau disebut tipe australic tersebar di wilayah Papua, Halmahera, dan Kepulauan Aru. Fauna berupa mamalia yang menghuni wilayah ini antara lain kangguru, beruang, walabi, landak irian (nokdiak), kuskus, pemanjat berkantung (oposum layang), kangguru pohon, dan kelelawar. Di wilayah ini, tidak ditemukan kera. Di samping mamalia tersebut, terdapat pula reptil seperti biawak, buaya, ular, kadal. Berbagai jenis burung ditemui di wilayah ini di antaranya burung cenderawasih, nuri, raja udang, kasuari, dan namudur. Jenis ikan air tawar yang ada di relatif sedikit.


 

develop by Tim Penyusun Geography Online
email: tim.geography.online@gmail.com