Home Download Comment Referensi Contact Video
Kehidupan sosial masy. Indonesia

Kehidupan Sosial Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara, Hindu-Budha dan Islam

Iklim dan bentuk muka bumi mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari corak kehidupan masyarakat Indonesia pada masa praaksara, Hindu-Buddha, dan Islam.

a. Kehidupan Masyarakat Masa Praaksara

Masa praaksara merupakan masa manusia belum mengenal tulisan seperti masa sekarang. Keadaan alam juga melatar belakangi kehidupan manusia pada kala plestosen yang ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang sangat besar. Iklim memegang peran penting dalam menentukan berbagai corak kehidupan. Iklim yang sangat dingin yang terjadi pada masa glasial merupakan salah satu tantangan alam yang memaksa manusia dan hewan untuk berpindah-pindah ke tempat yang iklimnya lebih cocok bagi mereka, atau jika tidak mereka terpaksa harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada. Penyesuaian diri terhadap terhadap lingkungan baru dapat kita amat dari bagaimana cara mendapatkan makanan dan cara manusia bertahan hidup.

Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa Praaksara dapat dibagi ke dalam tiga masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.

1) Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Kehidupan manusia masa berburu dan mengumpulkan makanan, dari sejak Pithecantropus sampai dengan Homo sapiens sangat bergantung pada kondisi alam. Mereka tinggal di padang rumput dengan semak belukar yang letaknya berdekatan dengan sungai.

Daerah itu juga merupakan tempat persinggahan hewan-hewan seperti kerbau, kuda, monyet, banteng, dan rusa, untuk mencari mangsa. Hewan-hewan inilah yang kemudian diburu oleh manusia. Di samping berburu, mereka juga mengumpulkan tumbuhan yang mereka temukan seperti ubi, keladi, daun-daunan, dan buah-buahan. Mereka bertempat tinggal di dalam gua-gua yang tidak jauh dari sumber air, atau di dekat sungai yang terdapat sumber makanan seperti ikan, kerang, dan siput.

Ada dua hal yang penting dalam sistem hidup manusia Praaksara (masa berburu dan mengumpulkan makanan) yaitu membuat alat-alat dari batu yang masih kasar, tulang, dan kayu disesuaikan dengan keperluannya, seperti kapak perimbas, alat-alat serpih, dan kapak genggam.

 

Selain itu, manusia Praaksara juga membutuhkan api untuk memasak dan penerangan pada malam hari.

Api dibuat dengan cara menggosokkan dua keping batu yang mengandung unsur besi sehingga menimbulkan percikan api dan membakar lumut atau rumput kering yang telah disiapkan. Sesuai dengan mata pencahariannnya manusia Praaksara tidak mempunnyai tempat tinggal tetap, tetapi selalu berpindah-pindah (nomaden) mencari tempat-tempat yang banyak bahan makanan. Tempat yang mereka pilih di sekitar padang rumput yang sering dilalui binatang buruan, di dekat danau atau sungai, dan di tepi pantai. Dalam kehidupan sosial, manusia Praaksara hidup dalam kelompok-kelompok dan membekali dirinya untuk menghadapi lingkungan sekelilingnya.

2) Masa Bercocok Tanam

Masa bercocok tanam adalah masa ketika manusia mulai memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara memanfaatkan hutan belukar untuk dijadikan ladang.

Masa bercocok tanam terjadi ketika cara hidup berburu dan mengumpulkan bahan makanan ditinggalkan. Pada masa ini, mereka mulai hidup menetap di suatu tempat. Manusia Praaksara yang hidup pada masa bercocok tanam adalah Homo sapiens, baik itu ras Mongoloid maupun ras Austromelanesoid.

Masa ini sangat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat karena pada masa ini terdapat beberapa penemuan baru seperti penguasaan sumber-sumber alam. Berbagai macam tumbuhan dan hewan mulai dipelihara. Mereka bercocok tanam dengan cara berladang. Pembukaan lahan dilakukan dengan cara menebang dan membakar hutan. Jenis tanaman yang ditanam adalah ubi, pisang, dan sukun. Selain berladang, kegiatan berburu dan menangkap ikan terus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan akan protein hewani. Kemudian, mereka secara perlahan meninggalkan cara berladang dan digantikan dengan bersawah. Jenis tanamannya adalah padi dan umbi-umbian.

Perkembangan selanjutnya, manusia praaksara masa ini mampu membuat alat-alat dari batu yang sudah diasah lebih halus serta mulai dikenalnya pembuatan gerabah. Alat-alatnya berupa beliung persegi dan kapak lonjong, alat-alat pemukul dari kayu, dan mata panah.

Pada masa bercocok tanam, manusia mulai hidup menetap di suatu perkampungan yang terdiri atas tempat-tempat tinggal sederhana yang didiami secara berkelompok oleh beberapa keluarga. Mereka mendirikan rumah panggung untuk menghindari binatang buas. Kebersamaan dan gotong royong mereka junjung tinggi. Semua aktivitas kehidupan, mereka kerjakan secara gotong royong. Tinggal hidup menetap menimbulkan masalah berupa penimbunan sampah dan kotoran, sehingga timbul pencemaran lingkungan dan wabah penyakit. Pengobatan dilakukan oleh para dukun.

Pada masa bercocok tanam, bentuk perdagangan bersifat barter. Barang-barang yang dipertukarkan waktu itu ialah hasil-hasil bercocok tanam, hasil kerajinan tangan (gerabah, beliung), garam, dan ikan yang dihasilkan oleh penduduk pantai.

3) Masa Perundagian

Masa perundagian merupakan masa akhir Prasejarah di Indonesia. Menurut R.P. Soejono, kata perundagian berasal dari bahasa Bali: undagi, yang artinya adalah seseorang atau sekelompok orang atau segolongan orang yang mempunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu, misalnya pembuatan gerabah, perhiasan kayu, sampan, dan batu (Nugroho Notosusanto, et.al, 2007).

Manusia Praaksara yang hidup pada masa perundagian adalah ras Australomelanesoid dan Mongoloid. Pada masa perundagian, manusia hidup di desa-desa, di daerah pegunungan, dataran rendah, dan di tepi pantai dalam tata kehidupan yang makin teratur dan terpimpin.

Kehidupan masyarakat pada masa perundagian ditandai dengan dikenalnya pengolahan logam. Alat-alat yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari sudah banyak yang terbuat dari logam.

Adanya alat-alat dari logam tidak serta merta menghilangkan penggunaan alat-alat dari batu. Masyarakat masa perundagian masih menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu. Penggunaan bahan logam tidak tersebar luas sebagaimana halnya penggunaan bahan batu. Kondisi ini disebabkan persediaan logam masih sangat terbatas. Dengan keterbatasan ini, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki keahlian untuk mengolah logam.

Pada masa perundagian, perkampungan sudah lebih besar karena adanya hamparan lahan pertanian. Perkampungan yang terbentuk lebih teratur dari sebelumnya. Setiap kampung memiliki pemimpin yang disegani oleh masyarakat.

Pada masa ini, sudah ada pembagian kerja yang jelas disesuaikan dengan keahlian masing-masing. Perdagangan mulai dikenal di masa perundagian.

Masyarakat tersusun menjadi kelompok majemuk, seperti kelompok petani, pedagang, maupun perajin.

Kehidupan sosial masyarakat dari masa berburu, bercocok tanam sampai masa perundagian terus mengalami perkembangan. Sistem kekeluargaan dalam hukum adat ada tiga, yaitu Patrilineal, Matrilineal dan Bilateral. Patrilineal merupakan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari keturunan pihak laki-laki (ayah) yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, sangat terlihat jelas pada masa praaksara para laki-laki lebih mendominasi kegiatan dan biasanya menjadi pemimpin dibandingkan pihak wanita.

Sering dengan berkembagnya hukum adat kekeluargaan Indonesia, sistem kekeluargaan Matrilineal merupakan sistem merupakan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari keturunan pihak wanita (ibu) yang bertanggung jawab. Sistem ini dianut oleh masyarakat Minangkabau. Sedangkan sistem kekeluargaan bilateral merupakan sistem merupakan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari kedua belah pihak ayah dan ibu yang bertanggung jawab. Sistem ini dianut oleh masyarakat Riau, Kalimantan dan lain-lain.

Masyarakat juga telah membentuk aturan adat istiadat yang dilakukan secara turun-temurun. Hubungan dengan daerah-daerah di sekitar Kepulauan Nusantara mulai terjalin. Peninggalan masa perundagian menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya. Berbagai bentuk benda seni, peralatan hidup, dan upacara menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan masyarakat masa itu sudah memiliki kebudayaan yang tinggi.

b. Kehidupan Masyarakat Masa Hindu, Buddha dan Islam

Masyarakat Indonesia sejak dulu mewarisi agama secara turun-temurun, yaitu Hindu, Buddha dan Islam. Masuknya agama-agama tersebut berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Proses masuknya pengaruh budaya Hindu dan Buddha ke Indonesia terjadi karena adanya hubungan dagang antara Indonesia dan India. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan asli Indonesia. Sejak ribuan tahun yang lalu, penduduk India telah melakukan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain di Asia melalui celah sempit yang ada di antara Pegunungan Himalaya yang dikenal dengan celah Kaibar. Celah Kaibar ini merupakan satu-satunya jalur yang sering digunakan oleh para pedagang untuk keluar masuk India. Sehingga dalam perkembangannya, berkembanglah peradaban Hindu dan Budha di India, tepatnya di daerah-daerah sungai, seperti Sungai Indus dan Sungai Brahmaputra.


Kegiatan ekonomi terus berkembang diikuti dengan persebaran agama hindu-budha. Kegiatan ekonomi yang muncul yaitu berupa kegiatan perdagangan. Barang-barang yang diperdagangkan biasanya berasal dari hasil kekeyaan alam dan dapat juga berupa produk olahan masyarakat. Untuk alat pembayaran sudah menggunakan uang-uang logam dalam memudahkan kegiatan ekonomi.

Negara Indonesia sendiri telah mengenal sistem pelapisan sosial sejak berabad-abad yang lalu di mulai dari masa pra-sejarah, masa kerajaan hindu, kemudian masa penjajahan dan masa sekarang ini, walaupun Indonesia menjunjung tinggi persamaan derajat namun sistem pelapisan sosial ini tidak bisa lepas karena sistem sosial ini memegang peranan dalam menjaga keseimbangan peran masing-masing.

Indonesia sendiri telah mengenal sistem pembagian kerja dimana pihak pria yang berburu dan mencari makan sedangkan pihak wanita yang bertugas mengurus urusan rumah tangga seperti memasak dan menjaga anak, lambat laun terjadi perkembangan dimana dibentuknya undagi atau kelompok yang ahli dibidangnya dan diiringi dengan kepala suku serta skeanggotaannya untuk mengatur kelancaran sistem bermasyarakat.

Ketika masa kerajaan Hindu masuk di Indonesia diketahui abad ke-4 dimana terdapat bukti sejarah yaitu berdirinya kerajaan Hindu tertua yaitu Kutai. Pada masa Hindu inilah berkembang sistem kasta yang berdasarkan kepada kekuasaan dan kewenangan.

Masa Penjajahan dimulai dari masa kolonialisme Belanda dimana terdapat 3 golongan yaitu orang Belanda dan Eropa yang merupakan golongan kelas satu, kemudian di kelas dua, ada golongan Indo-Eropa dan Asia timur, yang terdiri dari China, India atau arab. Dan terahir adalah Golongan Bumi putra yaitu orang Indonesia yang merupakan pegawai pemerintahan maupun petani dan pedagang.

Sistem stratifikasi sosial berkembang hingga masa modern ini yang dimulai dari bagian terkecil yaitu masyarakat terdapat tokoh agama, tokoh yang disegani, pihak RT dan RW, kelurahan, kecamatan dan lainnya. Kemudian berkembang dalam sistem pemerintahan Negara dimana masing-masing telah memiliki peranan sosial yang harus dijalani, stratifikasi sosial tidak bisa hilang dan berdasarkan pada keterampilan, kekayaan, kekuasaan, serta tingkat popularitas.

Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 sampai dengan 13 M dibawa oleh orang-orang muslim dari Arab, Persia, dan India (Gujarat dan Benggala). Adapun golongan pembawa agama Islam tersebut adalah melalui jalur perdagangan karena rempah-rempah pedagang dari berbagai negeri berlomba-lomba untuk mendapatkan monopoli perdagangan di Indonesia. Pada saat mereka datang, karena pulang dan perginya menggunakan tenaga angin muson barat dan timur, maka mereka menetap di Indonesia dalam waktu kurang lebih 3 sampai dengan 5 bulan. Dalam waktu itulah terjadi interaksi sosial antara penduduk pribumi dengan pendatang.

develop by Tim Penyusun Geography Online
email: tim.geography.online@gmail.com